Cerita pribadi

‘Tidak ada sesuatu yang spesial dari diri dan hidup saya.’

Sebenarnya saya ingin sekali mengawali tugas ini dengan kata – kata seperti itu. Tapi sebuah dialog pendek yang terucap dalam sebuah candaan dari kakak kelas aya waktu SMA dulu mengingatkan saya agar mengawali tugas ini dengan sesuatu yang  ‘berbeda’.

“Kalu kita meyakini sesuatu akan diri kita, maka yang kita yakini itulah yang akan terjadi pada diri kita.” Begitulah katanya.

Jika saya mengawali tugas ini dengan kata – kata tadi, itu berarti saya meyakini bahwa memang benar tidak ada yang spesial dari diri saya, dan saya tidak mau hal itu terjadi, karena saya spesial, saya memiliki banyak sesuatu yang spesial. Setidaknya, itu menurut saya.

***

Nama saya Bagus Tri Cahyono.

Itu adalah awal yang sangat klise. Bahkan sering membuat guru bahasa Indonesia merasa kesal. Tapi percaya atau tidak, sepenggal kalimat tadi memiliki sentuhan magic . Dengan menuliskan nama kita disetiap awal karya yang kita buat, kita akan merasa percaya diri, setidaknya, kita tidak akan pernah merasa mender untuk melanjutkan karya kita.

Well, dari kecil saya terbiasa menyendiri dan mulai menyukai keadaan itu. Tidak sehat memang, tapi saya sama sekali tidak memiliki pilihan lain. Didikan orang tua dan keadaan membuat saya harus bertahan dengan kesendirian. Tak ada yang mengganggu saya waktu itu karena saya terlalu kecil untuk mengetahui betapa tidak sehatnya keadaan saya waktu itu; berteman hanya dengan buku, novel, komik, dan text book, tanpa ada satupun teman dalam artian sebenarnya.

Keadaan yang sinting itu terus berlangsung selama 6 tahun di SD. Tak ada yang berubah kecuali jumlah koleksi buku yang bertambah. Kesendirian itu pada awalnya tidak pernah mengganggu saya, karena, jujur, saya tergolong siswa yang berprestasi pada waktu itu, jadi yang waktu itu sering terlintas dibenak saya adalah; saya masih bisa tetap berprestasi tanpa bantuan satu teman sekalipun.

Seperti itulah yang terjadi selama 6 tahun di SD.

Ketika masuk ke SMP, saya bertemu dengan berpuluh – puluh siswa dari berbagai daerah yang tentunya berbeda karakter. Dan entah kenapa, saya sangat ingin sekali berteman dengan salah satu dari mereka pada waktu itu. Tapi karena sebuah kebiasaan akan kesendirian, saya begitu sulit bahkan untuk hanya sekadar memulai percakapan. Tapi msemua berubah ketika seorang teman mulai mengajakku mengobrol dan berakhir dengan sesuatu yang sangat berbeda. Saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Dan yang paling membuat saya merasa berbeda waktu itu adalah karena dia memanggil saya ‘teman’, sesuatu yang belum saya miliki sebelumnya.

Dari dia, saya mulai belajar untuk memulai pembicaraan dengan orang baru dimana hal itu sangat membuat saya bangga karena saya mulai bisa menambah teman. Karena dia lah, Bagus yang awalnya anti sosial, sedikit mulai bisa membuka diri.

SMP berakhir dan saya ternyata harus bersekolah di SMA yang berbeda dengan dia. Disinilah saya belajar untuk mencari teman sebanyak mungkin tanpa bantuannya. Dan ternyata saya memang mendapat banyak teman. Bahkan yang lebih dekat dari pada teman pertama saya.

Saya mulai percaya diri karena sudah merasa seperti teman – teman yang lainnya. Selain masih tetap berprestasi seperti sebelumnya, saya sekarang pun bisa sedikit bersosialisasi. Hal itu sangat mengagumkan. Barangkali merupakan hal biasa menurut yang lain, tapi bagi saya yang sudah terlalu bosan dengan 6 tahun sendirian, merupakan hal yang sangat luar biasa bisa memeroleh teman.

Ketika semester akhir kelas 3 SMA…

Sebuah bongkahan besar mengganjal didalam diri saya, dan parahnya, saya tidak tahu apa itu. Saya mulai bertanya pada diri sendiri dan mengamati sekitar untuk memperoleh kejelasan dari rasa penasaran saya yang luar biasa. Sampai pada akhirnya, seorang teman bercerita pada saya tentang teman sekelasnya yang begitu ambisi mendapat nilai sempurna sampai – sampai membantu temannya sendiripun dia keberatan. Dari sanalah saya mendapat sebuah penerangan…

Untuk apa selama 12 tahun ini saya belajar?

Untuk apa selama 12 tahun ini saya mendapat nilai bagus?

Semua mulai berkecamuk didalam kepala saya. Saya mulai meragukan diri saya sendiri yang selalu dikenal sebagai siswa berprestasi sampai SMA…

Saya memang mendapat banyak nilai bagus ketika mengerjakan tugas diselembar latihan kerja siswa… tapi saya sama sekali belum merasakan nilai yang disebar Tuhan diseluruh dunia.

Saya mulai malas belajar dan terlambat kesekolah hanya untuk merasakan sensasi yang belum saya rasakan sebelumnya. Dimarahi guru, sesuatu yang akhirnya saya rasakan selama 12 tahun bersekolah.

Saya tidak yakin semua itu benar, tapi semua itu membuat saya belajar tentang kesalahan dan tentang hidup yang benar – benar hidup. Bukan hidup yang hanya bisa diucapkan dan diceritakan pada orang lain. Dari sana, saya mulai mengerti perbedaan antara Mark dan Value. Dalam bahasa Indonesia keduanya sama – sama berarti nilai. Tapi Value lah nilai yang membuat saya mengerti tentang obyektifitas, tentang sebuah hidup yang diset dari awal hingga akhir oleh Tuhan yang tidak pernah pernah menciptakan segala sesuatunya dengan sia – sia.

***

Intinya, hidup kita tidak hanya dipersembahkan Tuhan untuk kita sendiri. Karena Tuhan mengirim kita untuk hidup diantara orang banyak, dimana hal itu memiliki sebuah tujuan akhir yang masih membuat bingung saya sampai sekarang…..

Cerita orang lain

Banyak hal yang bisa menjadi alasan kenapa kita harus bersyukur. Baik itu karena sampai sekarang kita masih bisa hidup dan mengerjakan tugas MPKMB, dan masih banyak hal yang lain.

Dari sekian banyak berkah dan nikmat yang diberikan Tuhan, yang paling membuat saya ingin senantiasa bersyukur adalah karena saya hidup diantara banyak orang hidup lainnya.

Dari sekian teman dan bahkan orang yang belum saya kenal, banyak dari mereka yang memiliki sesuatu yang tidak kita miliki dan sebaliknya. Baik itu berupa materi, pengalaman atau yang lain. Dan yang paling membuat saya senang ketika saya hidup diantara mereka yaitu karena saya bisa belajar dari kehidupan mereka. Benar atau salah, semua itu hanya masalah pemikiran yang relatif. Karena itu, benar atau salah mereka, saya akan tetap dengan senang hati mempelajarinya.

Seperti halnya dengan teman perempuan saya ketika SMA. Sebut saja namanya adalah Rahma.

Saya kenal dia ketika berada dikelas sepuluh. Dia terlihat sangat semangat dan aktif. Selain itu, dia tergolong gadis yang cantik.

Karena tingkah uniknya itu kami jadi dekat karena saya sangat tertarik pada kepribadiannya. Mungkin karena ikatan persahabatn kami sangat erat, dari kelas sepuluh sampai dua belas kami sekelas. Sampai suatu hari di awal semester kelas 3, dia bercerita tentang keluarganya….

Dia merupakan anak pertama dari 2 bersaudara. Ayahnya merupakan seorang kontraktor dan ibunya ibu rumah tangga biasa. Adiknya berusia kurang lebih 8 tahun dan agak terganggu mentalnya. Keadaan keluarga kecilnya sama sekali tidak mengganggunya pada awalnya, sampai sebuah peristiwa yang dia nilai sangat tragis terjadi.

Dia bercerita kalau sejak awal ayahnya sedikit temperamental. Dan adiknya seperti tu karena selama dikandungan dulu sering dipukuli oleh ayahnya. Dan sekarang, sifat ayahnya itu kembali.

Ayahnya selingkuh  dengan wanita lain dan semua orang tahu itu. Hampir setiap malam ayah dan ibunta bertengkar karena itu.

Pertama dia cerita, saya sama sekali tidak percaya mengingat pembawaannya yang sangat ceria dan bersemangat. Dan kata – kata yang mengakhiri ceritanya lah yang membuat saya semakin bangga mempunyai sahabat sepertinya;

“Kalau bukan karena kalian, sahabatku, aku tidak akan pernah menjadi seceria ini.”

Betapa pentingnya kami baginya. Betapa sebenarnya dia terlalu sakit dengan keadaan keluarganya tapi tetap bertahan karena sahabat – sahabatnya.